Bianglala

Standard
Bianglala itu berputar pelan-pelan,
Derit-deritnya tertutup hingar bingar dedangdutan
Di bilik-bilik itu pecinta menikmati senja
Ada yang asyik berciuman,
Ada yang tegang berpegangan tangan,
Ada juga yang tertawa-tawa
sambil menjaga detak jantung pasangan
Namun bagi Adam di bilik berwarna jingga,
Menikmati waktu berdua adalah wacana
Si perempuan terlalu takut pada ketinggian
Enggan menikmati keintiman ciptaan tuhan
“dilarang agama” ucap si Hawa gemetar

bianglala
Advertisements

Dendam

Standard
Itu batang bunga mawar merah, yang durinya tidak kamu bersihkan tetapi kamu genggam dengan kencang.
Itu darah merah, yang mengalir mengikuti lekuk telapak tangan mengalir turun ke pergelangan hingga menetes dari sudut siku menuju lantai.
Itu kenangan, yang membuat kamu tak bisa mengekspresikan rasa sehingga kamu memilih untuk menggenggam batang mawar merah berduri.
Itu dendam, yang sakitnya terasa hingga ke ulu ati.  

Pohon Perempuan

Standard
Pohon Perempuan tumbuh di tengah kuburan,
Kayunya tua, penuh dengan kerutan
Setiap hari ia menghisap sari makanan dari Pohon Jantan yang ditanam di sisi kirinya,
Mengira Pohon Jantan tercipta untuk menjadi korban dominasinya
 
Matanya tak awas, tapi lihai melihat sari makanan
Batang kurusnya membungkuk, seperti macan yang siap memangsa korban kesayangan
Tawanya terkikik, tapi bersembunyi di balik senyum manis
Jiwanya tak lebih sejati dari nenek sihir yang tubuhnya berbau amis
 
Pohon Perempuan Tua manipulatif;
Kata-katanya manis,
Liuk tubuhnya seaduhai penari striptease
Tapi belakangan ia hanya meringis
Memandang liang peranakannya yang tak lagi disinggahi penis
 
Pohon Jantan kian layu
Sari makanannya habis dihirup Perempuan penguasa kubur
Pemilik lahan pun diburu perasaan tak tentu
Akar Pohon Jantan segera dicabut
Tubuhnya diangkut dengan truk
Pindah ke taman yang tanahnya baru dikeruk gembur
 
***
 
Batang Pohon Jantan kembali membesar
Daun-daunnya kembali menghijau
Buahnya kembali ranum
Harumnya membuat jiwa teduh
Hidupnya menghasilkan dunia yang baru
 
Bagaimana nasib Pohon Perempuan terkutuk?
Ia tak lebih dari catatan masa lalu
Sosoknya memenuhi masa-masa gelap yang dikutuk
Kisahnya hanya layak ditutup,
atau digoreskan pada selembar kertas yang kian melapuk
 

Gadis Pantai

Standard
Gadis kecil lahir di tepi pantai.
Telanjang di atas pasir putih membentang
Hatinya dibersihkan oleh ombak yang datang
Jiwanya hanya butuh pulau-pulau kecil persinggahan
 
Gadis kecil terpaksa tumbuh di kota
Di antara dinding-dinding tinggi dan alat pendingin ruangan
Pakaiannya bukan selembar kain dililit
Hatinya harus memahami kehidupan di balik bilik
 
Tak ada lagi ombak yang datang
Tak ada luka yang disapu bersih
Tak ada angin yang menggerakkan riang rambut
Tak ada pasir tempat merebah penat jiwa
 
Gadis kecil berjiwa sengsara
Alih-alih mencari pulau kecil persinggahan,
Di setiap hari ia harus menghadapi kemacetan