ia

ia
Kau diam yang tak pinta sepi, riuh yang enggan paksa suara
Mulia yang tak butuh kudus, bahkan benar yang tak apa disalahkan
Tinggi yang tak pernah memaksa berada di atas, karena rendah tak pun berarti hina
 
Bagiku kau adalah ruang, sang pecinta isi juga kosong
Indah yang tak dikenal manusia, yang tak keberatan menjadi buruk
kau kasih yang tak masalah dibenci, bagai lidah yang menerima manis sama istimewanya dengan pahit
kau tali yang menerima simpul dan urai, juga laut yang tak keberatan dipandang indah dan musibah
 
Kau hikmat yang tak menuntut dimengerti,
Pengalaman yang tak memaksa dijajaki
Guru yang tak memaksa diikuti,
Kata yang tak minta dimaknai
 
Karena kamu ada tanpa perlu dipercaya
Tak apa pun, dianggap tak ada
 
Bagimu,
Ada dan tiada bukan mutlak
Benar dan salah bukan prioritas
Dekat dan jauh bukan ukuran jarak
Semuanya hanyalah kelemahan pikirku
Dalam pekatnya rasa
Besarnya ingin
Tingginya tiang hasrat
MencintaiMu dalam syarat

Satu Kerat Roti

Satu Kerat Roti

Satu kerat roti, dan semua usai..

Simpul gelisah yang tak kunjung mengurai

Akan kenangan kerat-kerat yang lalu

Yang tak henti disuap penuh

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Lelah mengunyah dan perut yang penuh

Setengah jam kedepan kembali lapar

Mampukah kerat terakhir kuhabiskan?

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Berbagai rasa, tekstur, aroma

Pernah kulahap secara paripurna

Beberapa buatku meminta tambah

Tapi duri di antara potongan Tuna buat kerongkonganku terluka

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Tapi hati jadi gundah gulana

Haruskah kukunyah secara perlahan?

Atau kuhabiskan secepat singa yang lapar?

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Roti terakhir belum tentu berarti selesai

Baiknya kunikmati secara tunggal

Agar energi cukup untuk perjuangan kedepan

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Setelah habis akan diresmikan

Bahwa aku si pelahap semua kerat

Tanpa sisa untuk ditinggalkan

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Berpacu dengan waktu memang bukan sebuah pilihan

Inilah kepastian dari putusan yang lalu

Saat bibir menyentuh kerat roti terdahulu

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Berlama-lama toh hanya akan membuatnya rusak

Dihinggapi jamur biru kehijauan

Belum lagi baunya yang memuakkan

 

Satu kerat lagi..

Dan habis sudah.

Walau pada akhirnya,

 

Ada ragi untuk dibeli

Ada tepung untuk diuleni

 

Karena..

 

Satu kerat roti, dan semua usai..

Aku tak pandai mensugesti diri,

Aku pasti kembali lapar

Satu Malam Di sana

Satu Malam Di sana

Satu malam di sana

dan sisanya hanya cerita

 

tentang kekakuan yang meleleh sempurna

dan cairan yang kau namakan cinta.

 

Satu malam di sana

dan sisanya hanya dusta

 

tentang keteguhan yang dipertontonkan

pada gadis yang tak berdaya akan budaya.

 

Satu malam di sana

dan sisanya hanya karangan

 

akan jauh dan dalamnya sebuah hubungan

yang sebenarnya hanya komitmen tanpa rasa.

 

Satu malam di sana

dan sisanya hanya khayalan

 

akan kekasih yang sempurna

padahal busuk sini-sana.

 

Satu malam di sana

dan sisanya hanya keyakinan

 

bahwa masa depan sudah dirancang

dan tak satupun dari kita akan terenggut lainnya.

 

Satu malam di sana

dan kau naif sempurna

 

mengira kemenangan di tangan

padahal aku menusuk dari belakang.

 

Satu malam di sana

tapi

seribu malam di sini

yang kupenuhi dengan tanya

dan kuakhiri dalam tawa

 

Akhirnya!!

Jakarta, 3 September 2011. 09:38

 

 

Menunggu

Menunggu

kadang lelah sejuta rasa..

meronta di dalam jiwa..

berlari kaki tak mampu..

berjalan tak ada arah..

memandang tak ada teman..

seakan realita tak pernah ada..

 

waktu berjalan bak balerina..

alunan musik klasik, bertempo lambat..

hatiku meronta..

hei, takdir cepatlah..

tangisku tak jua dinilai berharga..

hei, Tuhan ayolah..

doaku tak lebih dari sekadar suara..

berlari pada kata

berlari pada kata

memandang waktu yang berderak menuju batas tunggu

menanti kehadiran yang kerap disembunyikan

berharap pada satu masa ku disapa

 

berlari ku pada kata,

saat lampu di ruang tunggu harus dimatikan

ketika tirai-tirai jendela kembali ditutup

menangis dalam doa

kata amsal, harapanku takkan sia-sia?

tapi tak jua kulihat sebuah tanda

 

setelah puas memaki pada kertas,

kembali kuusap air mata,

lampu di ruang tunggu kembali dinyalakan

dan dengan penuh percaya aku duduk

kembali berharap bertemu dalam sapa

dan jika tak lagi kutemui hari ini…

 

 

haruskah ku berlari kembali pada kata?

Jan 24, ’09 7:55 AM

tahun ke-7 kepergianmu

tahun ke-7 kepergianmu

tua, ringkih..

mata abu-abu..

rambut putih..

tergeletak lemah dalam sebuah kamar mewah..

TV kabel, kue kesukaan, buah-buahan, kulkas, ranjang empuk, dan pendingin udara..

semua kehilangan makna..

saat kau berjuang lawan penyakit berbahaya..

 

ingatkah, saat kita main bersama?

ingatkah, betapa kau menyukai mataku?

kerlingan usilku, undang tawa bahanamu..

lari pagi selalu jadi kenangan manis, kita bukan?

marahku, saat kau kecup pipiku, selalu kau tunggu..

bagimu, wajah sewarna tomat saat marah menjadi lelucon yang lucu..

andai kau tahu sakitnya pipiku..

saat tergores bakal janggutmu..

 

ingatkah kau?

hari-hari panjang saat kita mendengarkan musik bersama?

bagiku, itu hari-hari yang membosankan

kau meminta gadis berumur 9 tahun mendengar alunan keroncong..

sungguh tidak menyenangkan..

dan seperti biasa,

aku memilih untuk tidur di kursi goyangmu..

 

 

aku pun masih ingat…

hari-hari menjelang kematianmu..

dua buah cahaya terang, yang menurutmu terus datang mendekat..

kau pun sering berbicara seorang diri,

seakan sibuk menentukan waktu yang tepat untuk pergi..

di satu malam,

saat hanya ada kita berdua..

kau menasihatiku panjang lebar..

tentang keinginanmu untuk hidupku di masa depan..

menjadi pengantin bergaun putih salah satunya..

memegang teguh iman, yang kedua..

 

hal yang membuatku terpukul..

tidak berada di sisimu saat malaikat-malaikat itu datang menjemput..

tidak berdoa di sampingmu, saat nafas dan degup jantung melemah..

tidak mengecup dahimu,

saat nyawa tengah diregang..

 

tapi kau dan aku..

kita punya rahasia yang tidak diketahui orang lain,bukan?

bahwa kau akan pergi hari itu..

menit itu..

detik itu…

dan tak satu orang pun, selain kau dan aku yang tahu hal itu..

 

 

itu rahasia terakhir kita bukan, Opa?

selain rahasia-rahasia kenakalan masa kecilku,

yang kau janjikan takkan pernah diketahui Ibu..

 

 

31 Januari 2009,

tahun ke-7 kepergianmu

Minus Satu

Minus Satu

pilih yang satu,

 

jangan yang satu!

 

tapi, sulit untuk memulai dengan yang satu

 

karena ruang kecilku tidak tertuju kepada yang satu

 

lalu,

 

jika dunia berpikir lebih baik yang satu

 

maka biarlah yang satu menjadi satu dengan kesatuannya sendiri

 

dan aku,

 

bertahan dalam bentukku yang lain

 

minus satu

May 27, ’09 6:24 PM

lagi-lagi Pelangi

lagi-lagi Pelangi

lagi-lagi pelangi, yang kamu tuliskan pagi ini seakan segenap rasa,impian dan cita mengendap dalam satu busur warna-warni

 

adakah mungkin objek lain bagimu?

 

karena aku tidak lagi bisa menikmati pelangi.

 

indahnya tidak lagi berarti. diamnya hilangkan janji ribuan masa terpatri.

 

janji dari tokoh yang kamu ciptakan sendiri.

 

lihat dibalik pelangi,

 

rumah kumuh berdiri.

 

insan terluka sepi, bunuh diri.

 

bayi menangis, ditinggal dalam sebuah peti dan terancam mati

 

masihkah kamu asik dengan pelangi?

 

hey, nona coba dengar sedikit suara hati

Jun 22, ’09 2:42 PM

Tannya yang Bertanya

Tannya yang Bertanya

Tannya bertanya, untuk setiap alasan yang kehilangan daya tuk menjawab. Tannya bahkan bertanya, untuk segala kemungkinan yang telah lewat..untuk probabilitas-probabilitas yang mungkin pernah ada tanpa ia sadari.

 

Tannya mempertanyakan kerinduannya untuk merindukan, juga kecintaannya untuk mencintai.

 

Tannya tak berhenti bertanya. Bahkan dalam lelahnya, ia kembali bertanya, kapan terakhir kali aku bertanya?, apa yang terakhir kali aku pertanyakan?

 

Tannya tak pernah sanggup untuk berhenti bertanya, ialah Tannya di dalam tanya. Tannya hanya akan bertanya, dan hidup di dalam tanya. Hasratnya untuk menjawab disalurkan dalam tanyanya atas sebuah pertanyaan.

 

 

 

(untuk sebuah masa, ketika jawaban tidak lagi berfungsi sebagai jalan keluar, dan pertanyaan hanya dapat dijawab dalam pertanyaan lainnya)

Jun 23, ’09 8:00 PM