Satu Kerat Roti
Satu kerat roti, dan semua usai..
Simpul gelisah yang tak kunjung mengurai
Akan kenangan kerat-kerat yang lalu
Yang tak henti disuap penuh
Satu kerat roti, dan semua usai..
Lelah mengunyah dan perut yang penuh
Setengah jam kedepan kembali lapar
Mampukah kerat terakhir kuhabiskan?
Satu kerat roti, dan semua usai..
Berbagai rasa, tekstur, aroma
Pernah kulahap secara paripurna
Beberapa buatku meminta tambah
Tapi duri di antara potongan Tuna buat kerongkonganku terluka
Satu kerat roti, dan semua usai..
Tapi hati jadi gundah gulana
Haruskah kukunyah secara perlahan?
Atau kuhabiskan secepat singa yang lapar?
Satu kerat roti, dan semua usai..
Roti terakhir belum tentu berarti selesai
Baiknya kunikmati secara tunggal
Agar energi cukup untuk perjuangan kedepan
Satu kerat roti, dan semua usai..
Setelah habis akan diresmikan
Bahwa aku si pelahap semua kerat
Tanpa sisa untuk ditinggalkan
Satu kerat roti, dan semua usai..
Berpacu dengan waktu memang bukan sebuah pilihan
Inilah kepastian dari putusan yang lalu
Saat bibir menyentuh kerat roti terdahulu
Satu kerat roti, dan semua usai..
Berlama-lama toh hanya akan membuatnya rusak
Dihinggapi jamur biru kehijauan
Belum lagi baunya yang memuakkan
Satu kerat lagi..
Dan habis sudah.
Walau pada akhirnya,
Ada ragi untuk dibeli
Ada tepung untuk diuleni
Karena..
Satu kerat roti, dan semua usai..
Aku tak pandai mensugesti diri,
Aku pasti kembali lapar
Satu Malam Di sana
Satu malam di sana
dan sisanya hanya cerita
tentang kekakuan yang meleleh sempurna
dan cairan yang kau namakan cinta.
Satu malam di sana
dan sisanya hanya dusta
tentang keteguhan yang dipertontonkan
pada gadis yang tak berdaya akan budaya.
Satu malam di sana
dan sisanya hanya karangan
akan jauh dan dalamnya sebuah hubungan
yang sebenarnya hanya komitmen tanpa rasa.
Satu malam di sana
dan sisanya hanya khayalan
akan kekasih yang sempurna
padahal busuk sini-sana.
Satu malam di sana
dan sisanya hanya keyakinan
bahwa masa depan sudah dirancang
dan tak satupun dari kita akan terenggut lainnya.
Satu malam di sana
dan kau naif sempurna
mengira kemenangan di tangan
padahal aku menusuk dari belakang.
Satu malam di sana
tapi
seribu malam di sini
yang kupenuhi dengan tanya
dan kuakhiri dalam tawa
Akhirnya!!
Jakarta, 3 September 2011. 09:38
Menunggu
kadang lelah sejuta rasa..
meronta di dalam jiwa..
berlari kaki tak mampu..
berjalan tak ada arah..
memandang tak ada teman..
seakan realita tak pernah ada..
waktu berjalan bak balerina..
alunan musik klasik, bertempo lambat..
hatiku meronta..
hei, takdir cepatlah..
tangisku tak jua dinilai berharga..
hei, Tuhan ayolah..
doaku tak lebih dari sekadar suara..
berlari pada kata
memandang waktu yang berderak menuju batas tunggu
menanti kehadiran yang kerap disembunyikan
berharap pada satu masa ku disapa
berlari ku pada kata,
saat lampu di ruang tunggu harus dimatikan
ketika tirai-tirai jendela kembali ditutup
menangis dalam doa
kata amsal, harapanku takkan sia-sia?
tapi tak jua kulihat sebuah tanda
setelah puas memaki pada kertas,
kembali kuusap air mata,
lampu di ruang tunggu kembali dinyalakan
dan dengan penuh percaya aku duduk
kembali berharap bertemu dalam sapa
dan jika tak lagi kutemui hari ini…
haruskah ku berlari kembali pada kata?
Jan 24, ’09 7:55 AM
tahun ke-7 kepergianmu
tua, ringkih..
mata abu-abu..
rambut putih..
tergeletak lemah dalam sebuah kamar mewah..
TV kabel, kue kesukaan, buah-buahan, kulkas, ranjang empuk, dan pendingin udara..
semua kehilangan makna..
saat kau berjuang lawan penyakit berbahaya..
ingatkah, saat kita main bersama?
ingatkah, betapa kau menyukai mataku?
kerlingan usilku, undang tawa bahanamu..
lari pagi selalu jadi kenangan manis, kita bukan?
marahku, saat kau kecup pipiku, selalu kau tunggu..
bagimu, wajah sewarna tomat saat marah menjadi lelucon yang lucu..
andai kau tahu sakitnya pipiku..
saat tergores bakal janggutmu..
ingatkah kau?
hari-hari panjang saat kita mendengarkan musik bersama?
bagiku, itu hari-hari yang membosankan
kau meminta gadis berumur 9 tahun mendengar alunan keroncong..
sungguh tidak menyenangkan..
dan seperti biasa,
aku memilih untuk tidur di kursi goyangmu..
aku pun masih ingat…
hari-hari menjelang kematianmu..
dua buah cahaya terang, yang menurutmu terus datang mendekat..
kau pun sering berbicara seorang diri,
seakan sibuk menentukan waktu yang tepat untuk pergi..
di satu malam,
saat hanya ada kita berdua..
kau menasihatiku panjang lebar..
tentang keinginanmu untuk hidupku di masa depan..
menjadi pengantin bergaun putih salah satunya..
memegang teguh iman, yang kedua..
hal yang membuatku terpukul..
tidak berada di sisimu saat malaikat-malaikat itu datang menjemput..
tidak berdoa di sampingmu, saat nafas dan degup jantung melemah..
tidak mengecup dahimu,
saat nyawa tengah diregang..
tapi kau dan aku..
kita punya rahasia yang tidak diketahui orang lain,bukan?
bahwa kau akan pergi hari itu..
menit itu..
detik itu…
dan tak satu orang pun, selain kau dan aku yang tahu hal itu..
itu rahasia terakhir kita bukan, Opa?
selain rahasia-rahasia kenakalan masa kecilku,
yang kau janjikan takkan pernah diketahui Ibu..
31 Januari 2009,
tahun ke-7 kepergianmu
Minus Satu
pilih yang satu,
jangan yang satu!
tapi, sulit untuk memulai dengan yang satu
karena ruang kecilku tidak tertuju kepada yang satu
lalu,
jika dunia berpikir lebih baik yang satu
maka biarlah yang satu menjadi satu dengan kesatuannya sendiri
dan aku,
bertahan dalam bentukku yang lain
minus satu
May 27, ’09 6:24 PM
singgah
Singgahmu
dalam perjalanan pergikah,
arungi cita dalam sepi?
atau
hanya mencari hiburan
saat berjalan pulang?
Jakarta, 23 mei 2009
lagi-lagi Pelangi
lagi-lagi pelangi, yang kamu tuliskan pagi ini seakan segenap rasa,impian dan cita mengendap dalam satu busur warna-warni
adakah mungkin objek lain bagimu?
karena aku tidak lagi bisa menikmati pelangi.
indahnya tidak lagi berarti. diamnya hilangkan janji ribuan masa terpatri.
janji dari tokoh yang kamu ciptakan sendiri.
lihat dibalik pelangi,
rumah kumuh berdiri.
insan terluka sepi, bunuh diri.
bayi menangis, ditinggal dalam sebuah peti dan terancam mati
masihkah kamu asik dengan pelangi?
hey, nona coba dengar sedikit suara hati
Jun 22, ’09 2:42 PM
Tannya yang Bertanya
Tannya bertanya, untuk setiap alasan yang kehilangan daya tuk menjawab. Tannya bahkan bertanya, untuk segala kemungkinan yang telah lewat..untuk probabilitas-probabilitas yang mungkin pernah ada tanpa ia sadari.
Tannya mempertanyakan kerinduannya untuk merindukan, juga kecintaannya untuk mencintai.
Tannya tak berhenti bertanya. Bahkan dalam lelahnya, ia kembali bertanya, kapan terakhir kali aku bertanya?, apa yang terakhir kali aku pertanyakan?
Tannya tak pernah sanggup untuk berhenti bertanya, ialah Tannya di dalam tanya. Tannya hanya akan bertanya, dan hidup di dalam tanya. Hasratnya untuk menjawab disalurkan dalam tanyanya atas sebuah pertanyaan.
(untuk sebuah masa, ketika jawaban tidak lagi berfungsi sebagai jalan keluar, dan pertanyaan hanya dapat dijawab dalam pertanyaan lainnya)
Jun 23, ’09 8:00 PM