Category Archives: Prosa

Pulang

Pulang

GA 824

From Singapore to Jakarta

Departure time: 06:30

Arrival time : 09.30

Hari ini aku pulang. Pulang ke kota yang sudah kutinggalkan lima tahun lamanya. Pulang kepada masa lalu, Pulang ke rumah, kepada tentakel-tentakel gurita yang penuh kehangatan. Mungkin apa yang ada dulu, tiada lagi sekarang. Tapi apa yang ada dulu, masih hidup di hatiku sampai sekarang. Setiap roman percintaan, roman perpisahan, dan roman pengorbanan yang membentukku menjadi manusia utuh sekarang.

Udara panas menyengat setibanya di bandara Soe-tta. Ternyata tempatku tinggal bertambah tinggi saja suhunya. Riuhan orang menanti mereka yang baru saja keluar dari pesawat. Aku? Aku sendirian. Tiada yang menunggu untuk menjemputku ke rumah. Memang sebaiknya tidak. Karena toh aku tidak akan lama berada di sini. Aku datang untuk menunjukkan cintaku. penghormatanku. Dan kesetiaanku pada cinta lama yang kini hanya hidup di hatiku seorang. Setelahnya aku akan kembali kepada dunia yang lain. Kembali kepada tuntutan-tuntutan pekerjaan yang sudah menantiku bahkan di saat aku baru merencanakan untuk pulang ke rumah.

*****

“ Kemana Bu? “

“ ke Hotel H pak..”

Aku menaiki taksi menuju sebuah hotel. Aku akan menginap di sana. Karena rumahku tidak bisa lagi ditinggali bahkan diinapi. Bahkan kini rumah tersebut tidak lagi memiliki properti. Ia hanya sebidang tanah kecil, tapi yang selalu kurindu setiap waktu.

Perjalanan ini terasa menyengat jiwa. Akan kerinduan, akan kepenatan semasa masih duduk di bangku sekolah. Semasa pikiranku masih begitu naïf memandang kehidupan. Ah ya, aku terlupa.. Jakarta tidak kehilangan kemacetannya. Dan AC di taksi ini, masih saja tidak terasa. Tapi aku merasa begitu dekat dengan rumah. Walau mungkin esok baru sempat kukunjungi dirinya.

*****

Pagi hari.

Aku terbagun oleh suara alarm dari handphone-ku. Terbangun dan tersentak begitu kagetnya. Bertanya dimanakah aku saat ini? Ah.. ya. Di dalam perjalanan menuju rumah. Aku tersenyum, membayangkan pagi ini aku akan datang mengunjungi rumahku. Maka aku bergegas untuk mandi. Untuk berdandan secantik mungkin menuju kepada kenangan.

*****

“ ke jalan Kenangan pak.”

Lagi-lagi aku naik taksi. Taksi yang berwarna biru sebiru ketika aku meninggalkan Jakarta. Rupa-rupanya taksi ini masih saja menjadi pendominasi pasaran taksi di Jakarta. HEBAT. Sehebat rumah yang kan kukunjungi. Sehebat tokoh yang aku kan datangi. Mereka begitu konsisten untuk diam di hatiku. Seberapa jauhpun aku berada.

*****

Sekarang aku tiba di rumah masa kecilku. Masih sama besarnya dengan yang dulu. Halamannya masih begitu bersih, karena kakakku yang tinggal di Jakarta membayar orang untuk menjaga dan merawat rumah ini. Aku membunyikan bel. Tidak lama seorang perempuan tua datang menyambutku.

“ ah.. Mbak.. kapan datang ke Jakarta? Kok ndak kirim kabar mbak? Wah si mbak tambah cantik..”

“ iya, kebetulan mampir.. ada pekerjaan kantor..”

“oh.. kakak mbak tau mbak di sini?”

“ tidak bi.. tidak perlu diberitahu ya? Saya Cuma sebentar melihat-lihat. Harus buru-buru pergi, tidak enak jika tidak mapir.. “

“baik, mbak.. monggo masuk”

Aku melangkah menuju ke dalam rumah. Begitu sepi, tiada lagi yang tinggal di dalamnya. Tidak juga kakak-kakaku yang tinggal di Jakarta. Mungkin karena letak rumahku cukup jauh masuk ke dalam, sehingga untuk menuju jalan besar kami harus naik ojek dulu.

Langkahku begitu gontai. Jantungku berdentum begitu cepat, layaknya lagu tentu kali ini drum tersebut memainkan bagian reff-nya. Aku takut melangkah lebih dalam, tidak siap rasanya memandang barisan foto-foto wisudaku dan ketiga kakakku masih terpasang di sana. Tepat seperti hari dimana aku pergi dari rumah.

“mau minum apa mbak? Biar bibi bikinin”

“gak usah bi, Cuma sebentar kok. Aku harus pergi ke tempat lain”

BOHONG.

Bukan karena kau harus pergi ke tempat lain. Tapi karena aku tidak cukup kuat untuk lebih lama menghirup kenangan manis ini. Kenangan masa kecil. Kenangan saksi bisu perjuanganku menuju hari ini. Aku tidak siap. Tidak untuk paparan memori ini.

Aku melangkah menuju kamarku. Masih ada meja belajar tua, tempat tidur, dan lemari pakaian dari kayu jati. Di sini tempatku biasa menulis. Tempatku menangis di setiap penghujung kisah cinta remaja. Di meja ini kuletakkan cangkir-cangkir kopiku yang menemaniku berjuang menghadapi skripsi.

“Ah..”

Aku melangkah menuju kamar ayah dan ibuku. Masih seperti yang dulu. Masih memuat aroma daster ibuku. Entah bagaimana aku tidak mengerti. Tapi semua itu seperti tidak larut dimakan jaman.

Sejenak aku berjalan menyeret langkahku menuju teras. Memandang kembali rumahku dari teras, menyatukan setiap mozaik kenangan. Mengintegrasikan semua bagian menjadi sebuah bentuk bangunan yang sangat kukenal.

Ya.

Ya.

Ini rumahku.

Tapi bukan rumahku.

Ah entah bagaimana mengatakannya, Bahasa Indonesia tidak membedakan rumah dari rumah yang sesungguhnya. Tidak membedakan rumah sebagai kata sifat dan kata benda.

Ya. Ini lah bendanya. Inilah rumahku.

Inilah rumahku, tapi bukan rumah ini yang menjadi tujuan kedatanganku.

aku tiba-tiba saja ingin pergi secepat mungkin dari bangunan ini. Aku ingin datang ke rumahku yang sesungguhnya. Tempat labuhan jiwa. Tempat artefak kenangan.

Terburu-buru aku meminta diri dari bibi, dan kembali mengingatkannya untuk tidak memberitahu siapapun bahwa aku datang ke bangunan ini.

Aku berjalan begitu cepat. Dua kali lebih cepat dari kecepatan normalku dalam berjalan. Mencari pangkalan ojek dan menaikinya. Ya. Aku meminta si tukang ojek untuk membawaku lebih cepat aku harus cepat. Rasa rindu ini sudah memuncah di dalam dada.

Setibanya di jalan besar, lagi-lagi aku memberhentikan taksi. Taksi yang juga berwarna biru.

“Pondok Harapan, Pak”

“kalau bisa, jalannya cepat ya”

1 jam 20 menit.

“mbak ini sudah tiba”

“ Ah.. rupanya aku tertidur.

“masuk saja pak. Cari blok c no. 36”

“itu untuk yang agama apa mbak?”

“ Kristen”

“baik”

*****

“di depan pak, belokan pertama. Berhenti di situ”

“iya, mbak”

“bapak tunggu saya di depan kantor pusat di depan tadi ya. “

“iya mbak.”

Akhirnya inilah rumahku. Tempat kerinduanku. Tempat larinya air mata-air mata kesepianku. Aku duduk menghadapnya. Di sini. Di hadapan kedua nisan ayah dan ibuku.

“ayah, ibu.. aku datang. Jauh dari tanah sebrang. Penuh kerinduan.”

“ ini anakmu bu.. yah.. masih seperti yang dulu.. masih Rasha yang dulu”

“masih mencintai kalian. Masih begitu dalam”

Tangisku tak tertahan. Aku duduk sambil menciumi batu nisan ayah dan ibu. Keduanya memang diletakan berdampingan agar memudahkan kami jika berziarah. Dan inilah, rumahku. Rumah tambatan hatiku. Gudang nilai-nilai kehidupanku. Liang kenangan hidupku. Masih terlalu rapuh diriku untuk berdiri sendiri. Masih terlalu rapuh diriku jika harus tanpa mereka. Masih terlalu rapuh. Atau entah apakah akan selalu rapuh.

Ingin rasanya aku meningap di tempat ini. Tapi tentu hal tersebut tidak mungkin. Lagipula pesawatku akan segera lepas landas kembali menuju tempat lain 3 jam lagi.

Terpaksa kuseret langkah menuju kantor pusat pengelola makam ini. Membayar perpanjangan sewa tanah kubur untuk lima tahun kedepan. Ini bukti kesetiaanku. Bukti penghormatanku pada mereka. Bisa saja kutransfer uang itu. tapi rasanya, hanya dengan cara inilah aku bisa memaknai penghormatanku kepada ayah dan ibu.

Keluar dari kantor, kembali kuberjalan menuju taksi. Masih dengan hati yang remuk. Masih dengan mata yang sembab. Sulit memang tapi aku kembali harus berpisah.

Karena jalanku masih panjang ke depan. Dan kenangan tak seharusnya memenjarakan.

Dari dalam taksi, kutengok kembali kedua makam itu.

“selamat tinggal ayah, ibu.. aku akan kembali. Pada waktunya nanti.” Bisikku dalam hati.

“memperpanjang izin tanah makam ya mbak?” tanya supir taksi.

“iya, pak..”

“wah saya tau banget orang kayak mbak.. pasti kalau hormat sama orang tua hidupnya akan dimudahkan Tuhan,mbak.”

“ya , amin.”

Supir taksi tersebut mengatakan ucapannya dengan begitu yakin. Seakan-akan dia tahu apa yang dia ucapkan. Tetapi, ada satu hal yang tidak ia tahu. Bahwa, tanah di samping makam ayah dan ibu. Sudah dipesan. Dan akan diperpanjang selama belum digunakan.

Dan orang yang memesannya adalah aku.

“Would you know my name, if I saw you in heaven”

“will it be the same, if I saw you in heaven. “

Selang beberapa menit, radio di taksi tersebut memutar lagu itu. lagu yang terus menerus berputar di kepalaku dari lima tahun yang lalu.

“ayah.. ibu.. masihkah kalian mengingat aku ketika kita berjumpa di surga?”

Apr 10, 2011

Kisah Tentang Luka

Kisah Tentang Luka

Kamu datang. Hari ini. Masih hari yang terlalu dini untuk mengeluh. Tapi area matamu hitam dan membengkak. Aku sadar, kamu butuh kedua telinga dan hangat pelukku. Kamu duduk terdiam, matamu memandang kedua kakimu yang hanya beralaskan sandal kamar.

Kamu mulai berkisah, tentang hati yang kini retak terbelah lima (atau mungkin lebih?) kamu berkisah mengenai mimpi menjadi ratu dihidupnya. Sayang jalan karir menuju ratu terhenti di posisi gundik. Kamu menangis, bukan sedih.. tetapi marah. Dengan berang, kamu menunjuk ke arah foto berbingkai indah, di sudut meja ruang tamu. Melihat sepasang insan tersenyum bangga akan hubungan mereka. Sekarang itu hanya kisah, penggalan masa lalu yang entah untuk disimpan atau dilupa.

Kamu mulai memelukku, menyatakan bahwa dirimu tidak terima, tidak siap menerima lebih tepatnya, apalagi tidak siap melupakan. Kamu mulai berkisah tentang masa lalu yang sesungguhnya tidak terbentang terlalu jauh dari masa kini. Detik-detik pengambilan keputusan adalah momen yang paling menyakitkan, yang katamu, masih memaksamu berpikir bagaimana caranya memutar arah menjari jalan tikus yang tersisa untuk sekadar kembali menjadi ratunya.

Kamu menangis, tertawa beberapa detik, dan menangis kembali berjam-jam. Terus menerus kau kumandangkan remukan hatimu. Bahwa Tuhan tidak adil untuk memotong habis kisah percintaan ini. Bahwa Tuhan tidak adil membiarkanmu sebagai korban, bahwa menurutmu : aku. Orang yang duduk sambil memelukmu dari dua jam yang lalu pasti tidak mengerti perasaan apa yang kamu rasakan saat ini.

Sayang, tulikah aku tak mendengar kisahmu? Mati rasakah aku tak ikut menangis dalam deraian arus air matamu? Atau bodohkah aku tak mengerti rasanya perih akibat cinta?

Aku tahu.. aku tahu, sayang.. bahkan lebih dari yang kamu tahu.

Bahwa setiap perasaan kehilangan selalu saja menyakitkan bagi siapapun yang merasakan. Bahwa air mata kadang tak pernah bisa sanggup mewakili kata, bahwa cinta memang selalu berhasil menghancurkan manusia hingga ke kepingan terkecil.

Ya.. dan masih, kau berpikir aku tidak mengerti. Tentang sakit, tentang luka, tentang kecewa, yang kini tampaknya sedang kau nyanyikan layaknya kidung mesra. Aku tahu. Aku tahu. Aku punya luka yang sama. Dalam dada. Dalam prahara kisah terdalam sejarah hidupku.

Saat dimana ayah lupa. Dan ibu terbawa kisah lainnya. Masa dimana si gadis kecil berjuang sendiri mencari pegangan. Sepotong kayu diharapkan membantu. Sebatang pohon diharapkan untuk bergantung. Walau pada kenyataannya. Hanya cinta. Pegangan terhandal. Yang tidak juga dimiliki.

Aku tahu. Aku punya duka yang sama. Sama sepertimu, aku pun punya cerita. Terhimpit di sana, di tempat yang kata pun enggan tuk singgah.

Jadi bisakah kau terima? Jika luka ini terlalu dalam untuk dibagi lewat media kata? Bisakah kau terima? Kalau tangis terlalu manis untuk gambarkan kecut, perih, kepingan hati terdalam. Tempat dimana yang kubutuhkan hanya dua tokoh ideal, mozaik hati di masa kecil. Tempat harapan. Mungkin kau menyebutnya orang tua? Di mataku, harapan akan mereka layaknya menunggu Tuhan turun ke bumi.

Dan hari ini, setiap sakit, Setiap luka kehilangan kekuatan untuk berekspresi di hidupku. Aku hanya diam. Raga dan jiwa. Ini satu-satunya caraku bertahan. Tanpa kata, tanpa suara, tanpa rintih, atau nada.

Apr 8, 2011