Retakan Bulan

Retakan Bulan

“kalau nanti kamu pulang, Jangan lupa petikan untukku retakan bulan.

Sehingga aku tetap terang dan merasa aman,

saat kamu hendak kembali pergi berpetualang”

 

Dan kupetikkan bagimu retakkan bulan

Tercetak sempurna pada lembut permukaan sungai

kutuang ke dalam Tupperware

kututup rapat

Agar retakan itu sempurna tak kurang barang setetes

 

Aku pulang ke rumah di kala siang,

Kau menyambutku dengan tawa riang

Peluk hangat

Cium mesra

Bisik nakal

Kuserahkan padamu retakan bulan

Kau tuangkan di bawah pohon yang rindang

Dan tatapan kecewamu terbayang

 

“Sayang, yang kubutuhkan retakan bulan.

Bukan patahan surya”

 

Kelambu

Kelambu
Di balik kelambu merah delima
Jatuh tertidur di atas dipan yang sama
Gelas tawa pernah pecah
Airnya membasahi tanah
 
Masih kelambu yang sama
Merah delima dengan bercak kekuningan
Mungkin percik keringat kita saat tertawa tanpa jeda
Atau air mataku saat diam purnama

Rengkuh, hangat, dan Cakrawala

Rengkuh, hangat, dan Cakrawala
Rengkuhmu hangat sang surya
Membawaku dalam nyaman persinggahan
Termangu dalam hening perahu nelayan
Sendiri menyeruput harum dan lembut lautan
 
Tatap matamu garis batas cakrawala
Kedalamannya takkan pernah sanggup kugapai
Perhentian sang langit bertemu daratan
Yang kerap hanya sanggup kupandang kenikmatan
 
Walau mendung
Walau beku
Walau sayu
Walau deru dan debu mengganggu
dan bilakah nanti kulitku membiru?
 
 
Rengkuhmu hangat sang surya,
Tatap matamu garis batas cakrawala
Dalam diam aku mengutara
dalam biru aku kan menjingga

Yang Dipaksa Diam

Yang Dipaksa Diam
Siang dan malam diciptakan bergantian
Sedang senja begitu pendiam
Saksi kekal kala siang kelelahan
Kemudian mengalah,
Mempersilakan malam unjuk kebolehan
 
Sama seperti lelaki dan perempuan  
Katanya diciptakan berpasangan.
Senja masih saja diam,
Kali ini tidak menunggu salah satu pihak mengalah
Hanya merindukan kejujuran:
Bahwa jantung Rian berdebar kencang kala melihat Rahman,
Bukan Dian.
Dan senja masih saja dipaksa diam
Kali ini, bahkan dipaksa tiada.

Terburu-buru

Terburu-buru
Bunga-bunga mekar, layu seturut waktu
Pengagum diam sesaat, kemudian berlalu
Mengejar apa yang ia kira perlu
Lupa pada waktu
Pada kuntum yang senyumnya membeku

 

Bunga perlahan layu
Kelopak lemas terjatuh
Takluk pada musim yang menunggu
Pada suramnya gugur yang menuntut

 

Pengagum kembali, pegang apa yang ia mau
Kemudian diam kesal dan termangu
Bunga tiada, hatinya membiru
Mengumpat si tukang kebun yang sungguh siaga selalu
Kerjanya dinilai tak bermutu
Padahal ia terlalu terburu-buru
Tak sempat congaknya menunduk,
Memandang lurus
pada kelopak kecoklatan yang terinjak sol sepatu

Tidak Ada yang Berubah

Tidak Ada yang Berubah

I
Lonceng itu kembali berdentang
Mengagetkan aku yang lalui alam tak sadar
Pastor-pastor berdoa,
Beberapa biarawati berbicara pelan:
Tak ada yang berubah.

Baju usang ini,
Celana robek,
Sisa nasi yang basah disiram hujan:
Juru selamat belum datang.

II
Dingin,
Anak kecil itu masih duduk membisu di taman sekolah
Ibunya masih asik masyuk di kedai kopi
Tertawa layaknya si jalang penggoda
Dengan brondong yang hari ini mendapatkan jatahnya
Di hotel dekat sekolah:
Tak ada yang berubah.

III
Panas sekali,
Kaos dekilku kusampirkan di gerbang sekolahan.

Kulihat kembali pastor muda itu:
Yang tahun lalu begitu yakin dosaku sudah diampuni.
Yang memberikanku kelegaan
Yang membebaskanku dari berat beban.
Tapi kemudian,
Di lepas tengah malam.
Dengan jaket hitam keluar dari hotel dekat sekolah
Terburu-buru
Resleting celananya lupa ditutup:
Tak ada yang berubah.

IV
Senyumnya secerah mentari,
Bergandengan tangan dengan ibu yang datang tepat pada waktunya.
Berhenti di depan kios es krim,
Menjilat susu beku rasa strawberry.

Ia senang,
Paling tidak oleh apa yang ibunya lakukan:
Tak ada yang berubah.

V
Kami berpandangan, dari jarak jauh yang cukup dekat.
Ia di bangku taman sekolah; aku di gerbangnya.
Sesaknya timbul kembali akan apa yang ia lihat semalam.
Pemandangan yang dulu juga membuatku sesak, tapi kemudian maklum:
Tidak ada yang berubah.

Lukaku sudah busuk, sakitnya tak terasa.
Lukanya basah, belum dicuci alkohol.
“Nanti pun akan sembuh, Nak.”
Bisikku dalam hati.

VI
Inilah yang dilihat si gadis kecil sahabatku:
Ibunya, sang penjemput, pelindung, dan sponsor jajanan es krim
Pastorku, hamba-Nya, pengangkat dosaku tahun yang lalu.
Bersatu
Tanpa baju
di sofa biru ruang tamu
yang dibelikan ayahnya seminggu lalu.

Bocah Lanang

Bocah Lanang
Ia bocah lanang
Yang kehilangan masa siang
Dalam permainan yang ditentang
Dan hukuman-hukuman panjang
 
Tubuhnya bertahan menahan berat rotan
Yg ditepukkan berulang atas nama nakal
Belajar takut, atas nama patuh
Belajar pasrah, atas nama hormat
 
Di penghujung muda ia menjadi kepala keluarga
Menutup matahari muda dengan tepukkan bambu berulang
kulit lembut coklat yang terbakar siang
berubah merah seketika
“kamu dipukul karena nakal!” teriaknya
“untuk masa kecil dan ayah!” ronta hatinya.
 
Ps: di sudut matanya ia mengerling. Memandang lelaki tua lumpuh yang terisak di pojok ruang, yang di sela isaknya berbisik ,memohon keringanan hukuman bagi cucu tersayang.

Jarak

Jarak
Seumpama peluk yang tak berisi,
Sepasang tangan bertemu pada muka jari
mereka tak hendak merengkuh diri,
hanya ingin berteman dengan udara yang kian menari
bergerak dalam ruang rengkuh, menggeliat di sela-sela jemari

 

Api tak menyentuh air di dalam kuali
Tapi membuatnya hangat di dalam senti
Jilat pun riang, ia cinta kulit kuali
Satu-satunya kesempatan untuk berdamai dengan yang maha mengalir

 

tapi tak lama, rasa ingin memiliki menguasai
peluk tak berisi kian menyempit,
Tangan hanya sanggup merengkuh erat diri
udara enggan berteman lagi
tariannya berhenti
ia melarikan diri
Dan jilat yang menembus kulit kuali?
Ia padam,  sisakan misteri

ia

ia
Kau diam yang tak pinta sepi, riuh yang enggan paksa suara
Mulia yang tak butuh kudus, bahkan benar yang tak apa disalahkan
Tinggi yang tak pernah memaksa berada di atas, karena rendah tak pun berarti hina
 
Bagiku kau adalah ruang, sang pecinta isi juga kosong
Indah yang tak dikenal manusia, yang tak keberatan menjadi buruk
kau kasih yang tak masalah dibenci, bagai lidah yang menerima manis sama istimewanya dengan pahit
kau tali yang menerima simpul dan urai, juga laut yang tak keberatan dipandang indah dan musibah
 
Kau hikmat yang tak menuntut dimengerti,
Pengalaman yang tak memaksa dijajaki
Guru yang tak memaksa diikuti,
Kata yang tak minta dimaknai
 
Karena kamu ada tanpa perlu dipercaya
Tak apa pun, dianggap tak ada
 
Bagimu,
Ada dan tiada bukan mutlak
Benar dan salah bukan prioritas
Dekat dan jauh bukan ukuran jarak
Semuanya hanyalah kelemahan pikirku
Dalam pekatnya rasa
Besarnya ingin
Tingginya tiang hasrat
MencintaiMu dalam syarat