I
Lonceng itu kembali berdentang
Mengagetkan aku yang lalui alam tak sadar
Pastor-pastor berdoa,
Beberapa biarawati berbicara pelan:
Tak ada yang berubah.
Baju usang ini,
Celana robek,
Sisa nasi yang basah disiram hujan:
Juru selamat belum datang.
II
Dingin,
Anak kecil itu masih duduk membisu di taman sekolah
Ibunya masih asik masyuk di kedai kopi
Tertawa layaknya si jalang penggoda
Dengan brondong yang hari ini mendapatkan jatahnya
Di hotel dekat sekolah:
Tak ada yang berubah.
III
Panas sekali,
Kaos dekilku kusampirkan di gerbang sekolahan.
Kulihat kembali pastor muda itu:
Yang tahun lalu begitu yakin dosaku sudah diampuni.
Yang memberikanku kelegaan
Yang membebaskanku dari berat beban.
Tapi kemudian,
Di lepas tengah malam.
Dengan jaket hitam keluar dari hotel dekat sekolah
Terburu-buru
Resleting celananya lupa ditutup:
Tak ada yang berubah.
IV
Senyumnya secerah mentari,
Bergandengan tangan dengan ibu yang datang tepat pada waktunya.
Berhenti di depan kios es krim,
Menjilat susu beku rasa strawberry.
Ia senang,
Paling tidak oleh apa yang ibunya lakukan:
Tak ada yang berubah.
V
Kami berpandangan, dari jarak jauh yang cukup dekat.
Ia di bangku taman sekolah; aku di gerbangnya.
Sesaknya timbul kembali akan apa yang ia lihat semalam.
Pemandangan yang dulu juga membuatku sesak, tapi kemudian maklum:
Tidak ada yang berubah.
Lukaku sudah busuk, sakitnya tak terasa.
Lukanya basah, belum dicuci alkohol.
“Nanti pun akan sembuh, Nak.”
Bisikku dalam hati.
VI
Inilah yang dilihat si gadis kecil sahabatku:
Ibunya, sang penjemput, pelindung, dan sponsor jajanan es krim
Pastorku, hamba-Nya, pengangkat dosaku tahun yang lalu.
Bersatu
Tanpa baju
di sofa biru ruang tamu
yang dibelikan ayahnya seminggu lalu.